Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nadia, Sukses Jadi Eksportir Pengrajin Sepatu Pada Umur Belia

Saat tinggal diJepang jatah jiplak olehayah yg bertugas di sana,Nadia Mutia Rahma meniruagenda eksplorasi bahasaJepang di KAI Japanese Language School, syirik satusekolah percakapan Jepang pada Shinjuku, Tokyo. Di sana iaberkenalan lalu berbagaisiswa dari mancanegara. Dikelas angkatannya, bertepatanterdapat meluap siswa yang berasalmulai lingkungan Skandinavia.

Otomatis Nadia selalu mendapat karangan mengenai kawasan ygmenaungi pemerintahan Finlandia, Swedia, Islandia, Norwegia bersamaDenmark. “Saya doyan mendengar cerita sekeliling kebudayaan sendiri-perseoranganSkandinavia,” ungkapnya.

Salah satu kultur yang mencuri perhatiannya yaitu tradisimemakai clog atau kelom. Iamenanggung jatuh nafsu bersamadasar suku pada, balak tadi.“Sebenarnya kebiasaan menggunakankelom bukan melulu kepunyaan orangSkandinavia. Di Jepang denganIndonesia juga ada. Di Jawa,kelom diklaim besertateklek ,”jelasnya.

Usai berlatih di KAI, anak darapasangan Nanang Sunarya lagiNoerdiyanti ini selanjutnyamenjadikanbagian Fashion Introduction diESMOD Tokyo. Di sini Nadiamelimpah berlatih mengenai seluk-beluk dunia fashion, terdaftarsisi bisnisnya. Saat menempuhceramah, Nadia sering meniruseminar fashion. Salah satunyaadalah seminar sejak HikoMizuno, seorang perancang sepatu dahulu Jepang.

Di seminar tersebut, ditampilkan kiat-metodemenghasilkan sepatu. Melihatketekunan bersama akurasi para pengrajin sepatu di Jepang yang dipaparkan dalam forumtadi, Nadia kendati tertankjatah terjun ke dagang sepatu.“Di forum tersebut dijelaskansejarah, metode, bersamapemekaran terbitan sepatu.Ternyata sungguh-sungguh menghadapi.Saya jadi terbawamendalaminya,” dongeng Nadia.Lantaran senang dan dasar kakikelom, ia walau bertekad bagimenciptakan terbitan kelombeserta inovasinya perseorangan.

Selain karena kegemaran, Nadiabersedia dan menerima mempunyai feelingyang sangat berpengaruh perkarakulak kelom. “Menurut aku,bisnis itu pula harusmemakai feeling . Sayamenganggap yakin lalu produkkelom. Apalagi masih jarangpengusaha yang berinovasibersama kelom di Indonesia,”tuturnya.Selain itu, Nadia juamelangsungkan survei perkaraberagam situs kios online, cantiknusantara kendati internasional.

Rupanya produksi kelom sedangterhitung dikit di Indonesia,sementara peminatnya penuhberjibun, terkandung darimancanegara. “Saya eksklusifberhasratfokus jua keekspor. Untungnya ayahanda sayaseseorang importir, jadi sayabelajar melimpah akan halnya ikhtiarekspor-impor melalui ia,”dongeng Nadia.

Tanpa menyelesaikan kuliahnyapada ESMOD Jepang, mula tahun2010 lantas Nadia nekad pulihke Indonesia kemudian ke 2orangtuanya yg sudah pernah lebihlalu pulih. Untuk menggaliproses buatan sepatu, Nadiayg bertempat tinggal di Yogyakartatetapkan jatah mengangkatpendidikan pada ATK (AkademiTeknologi Kulit), Yogyakarta.Setelah satu semestermelewati tuntunan di ATK,Nadia kendati tetapkan berhenti.

Untuk membentuk niaga yangdiimpikan, Nadiamengumpulkan modal sejumlahRp 30 jutamembayarbahan baku dan menuntaskanpengrajin. Menurut Nadia, rumitmencari pengrajin yang hendakmenghasilkan kelom sinkronlalu model ygdirancangnya. Pasalnyapengrajin pada sejumlah Yogyakarta,lazimnya sudah pernah memiliki pakembadan dalam cipta asaskaki. “Mereka (pengrajin) rata-bidang belaka membikin alas sukubeserta model yg sudah pernahawam. Jadi berjibun ygmenangkal saat aku gugatmenghasilkan kelom yang akubentuk,” ujar budak segarsejak tiga bersaudara yg lahirpada 12 Juni 1989 ini.

Kelom kerangka Nadiabenar tak bagaikan patronkelom pada lazimnya. Iamengonsep kelom lagijamahan Eropa, merupakan balakdipadupadankan bersamamaterial alat peraba. Menurut Nadia,rancangannya ini belum sempatterdapat pada Indonesia sebelumnya.“Kelom dibuat sedemikianwajah biar rukun untukpenggunaan sehari-hari. Selainitu, sepatu ini pula elokdikenakan dengan beragampedoman busana,” katanya.

Setelah mendapatkan pengrajinyg sesuai, Nadia wajib melangsungkan berbagai pengujiansekitar lulusan kelom tibamenjumpai bentuk yang penuhlagi sakinah dipakai.

Bermacam-model rupa balakdiuji seperti material pokokkelom. Tidak ibarat kelom-kelom lain yang menggunakankayu mahoni, Nadiamemakai balok sampang.Kayu ini tumbuh liar pada hutanJawa lalu Sumatra. “Kayu ragamini warnanya cemerlang, bobotnyasempit, lalu awet. Saat dipijakterasa halus beserta sejahtera,” ucappemudi yg juga kesenanganmembatik ini.

Setelah 3 bulan penelitian,akibatnya Nadia menjumpaiteladan dengan desain kelom yangcukup dikenakan. Ia menanggung kenyangkarena sungguh sudah berusahaaporisma. Mengusung namaupaya Kloom (dikte: klum),pemasaran aktualdilakukannya melalui Facebooklalu akun Kloom Clogshoppada bulan September 2010.

Sepasang kelom dijualnyaseharga Rp 200.000. Hasilnyatidak mengecewakan, 3-4 pasang kelomlaris per hari.Namun Nadia tidak puas sampaidi danau. Ia berpikir berbobotmemasarkan produk fashion sira wajib membikin pengguna penuhdan memperlihatkanpribadi wujud keluarantadi.

Akhirnya sira carterkedai bazaar di mall.“Responsnya sungguh-sungguh lumayan.Sebulan omzet-nya mencapai Rp39 juta,” ceritanya.Ditaksir pengimporSelain pasar pribumi, Nadia juamenyasar mancanegara denganmenawarkan lembaran viagerai online internasional semacam http://www.alibaba.com.

Usahanya kendati berbuah manis.Banyak importir Eropa ygterbawa beserta kreasinya. Salahsatu permohoan ekspor mendaratdari Swedia yang memesansebanyak 250 pasang kelom. Dengan subsidi memperkaya bermulasang ayahanda sejumlah Rp 200juta, Nadia merekrut puluhanaktivis pada, Yogyakarta denganTasikmalaya demi menyempurnakanobjek.

Selanjutnya, ia juamenerima permohoan sejaksupplier di Denmark, Belanda,lagi Yunani, yang mempersilakan100-200 pasang kelom. Bahkansebuah butik di Amerika Serikatteratur memesan kelom sekitar100 pasang setiap bulannya.

Saat ini, kecuali kelom, Nadiajuga bereksperimen besertasandal beserta sepatu pedomanespadrille yangdipadupadankan dengan menulistulis hasil desainnya. Selainmenulis, terdapat juga espadrilledan sentuhan menjahit. Kreasiini dilakukannya dengan tujuan lebih melestarikan kulturIndonesia, sertamemaksimalkan konsumsidata baku domestik.

Kendati sudah pernah menjadi lulusanekspor, Nadia menjamin danaproduknya sedang sungguh-sungguhterjangkau. Untuk kelom, ongkosyg diberikan sejak mulai Rp175.000 – Rp 425.000.

Sementara jatah modelespadrille , harganya antara Rp235.000 – Rp 325.000. Adapuluhan teladan kelom denganespadrille yg sudah pernahdiciptakan Nadia. Berkatinovasinya, modern-modern inisepatu kreasinya digaet kesalahansatu ahli grafis baju dahuluYogyakarta jatah memeriahkanpagelaran Jakarta Fashion Week2011.

Saat ini Nadia telah bisamengaryakan 20 perseoranganpengrajin pada Yogyakarta denganTasikmalaya. Omzet daim yangdihasilkannya sampai Rp 70juta sebulan. Itu saja mulaipasar malam. Untuk manajemenniaga, Nadia dibantu bapak laluibunya. “Modal mulai ayah sudah pernahaku kembalikan semua. Semogaseterusnya ikhtiar ini sanggup lantasmaju,” katanya tersenyum.